Detail E-Riset

Kajian Ketahanan Pangan Perkotaan Melalui Supply Pengurangan Susut Pangan, dan Urban Farming Di Kota Surakarta

OPD : Kajian Ketahanan Pangan Perkotaan Melalui Supply Pengurangan Susut Pangan, dan Urban Farming Di Kota Surakarta

Tahun : 2026

Urusan: Pangan

Kesimpulan/Summary :

1. Sistem Pasokan Pangan — cukup di ketersediaan/keterjangkauan, rentan di stabilitas

  • Lahan pertanian kota hanya 35,20 ha (0,80% luas wilayah); produksi beras hanya ±574 ton/tahun → kebutuhan pangan sepenuhnya bergantung wilayah penyangga.
  • IKP 87,67 (status Prioritas 6/sangat tahan), tapi rantai pasok bertumpu pada simpul tunggal (Pasar Legi).
  • 82,35% rumah tangga bergantung pasar tradisional; 47,06% membeli sayur setiap hari tanpa persediaan → sistem pangan berbasis distribusi harian, bukan persediaan.
  • Konsumsi energi baru 88,05?ri AKE; protein 100,28?ri AKP; PoU (ketidakcukupan konsumsi) masih 7,92% (2023).

2. Susut & Limbah Pangan — terkonsentrasi pada sayuran, 4 titik kritis

  • Titik kritis: (1) pengangkutan tanpa rantai dingin, (2) jeda distribusi pasar induk→pasar tujuan, (3) penyimpanan terbuka di ritel, (4) persiapan/konsumsi rumah tangga & jasa boga.
  • Titik 1–2 = food loss, titik 3–4 = food waste → penanganan berbeda.
  • Neraca susut pangan tingkat kota belum tersedia; rujukan nasional menunjukkan sayuran adalah kelompok pangan paling tidak efisien (kehilangan 62,8?ri suplai domestik).

3. Urban Farming — sistem penyangga rumah tangga, bukan sumber pasokan kota

  • 2,52 ha lahan pekarangan dikelola 109 kelompok tani/KWT, 28 kelompok tidak aktif.
  • Manfaat utama: hemat pengeluaran (82,35%), sayur segar (64,71%) → bekerja lewat jalur keterjangkauan/akses, bukan penambahan pasokan agregat.
  • Minat tinggi (94,11%) tapi terkendala lahan (47,06%), pengetahuan (29,41%), waktu (23,53%).
  • Ada ketidaksesuaian: komoditas dominan (terong, tomat, cabai) butuh lahan luas & matahari penuh, padahal mayoritas rumah tangga lebih cocok tanaman berdaun umur pendek.

4. Model Integratif Tri-Pilar — terbukti relevan

  • Enam aliran keterkaitan nyata antarpilar (mis. limbah pasar → kompos/pakan → urban farming), sebagian sudah berjalan alami tapi belum terformalisasi dalam kebijakan.

5. Rekomendasi paling layak = penataan & penguatan praktik yang sudah ada, bukan program baru dari nol. Prioritas: Perwali pertanian perkotaan + neraca susut pangan. Target IKP 86,7 (2029) di RPJMD perlu dikoreksi karena sudah terlampaui (87,67 di 2024) — disarankan naik ke kisaran 90.


Rekomendasi :

A. Rekomendasi Penelitian (untuk peneliti lanjutan/BRIDA)

  1. Perbesar & perbaiki sampel (min. 100–399 responden probabilistik, terstratifikasi)
  2. Ukur susut pangan langsung (composition study 3 simpul, 7 hari, 2 musim)
  3. Hitung skor Pola Pangan Harapan (PPH) kota
  4. Ukur dampak ekonomi urban farming secara kuantitatif (propensity score matching)
  5. Analisis jaringan sosial tata kelola lintas OPD
  6. Perluas kajian ke wilayah penyangga (city region food system)
  7. Uji model tri-pilar di kota lain berkarakteristik serupa

B. Rekomendasi Kebijakan per OPD/Pemangku Kepentingan

OPD / Pihak Poin Rekomendasi Utama
Bappeda Koreksi target IKP RPJMD (pertahankan ≥87,67, arah ke 90 pada 2029); masukkan tri-pilar ke RKPD/Renstra; tetapkan indikator antara (kelompok tani aktif, sampah organik terolah, unit urban farming)
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan & Perikanan Susun neraca susut pangan kota (baseline baru); revitalisasi 28 kelompok tani tidak aktif (prioritas sebelum kelompok baru); ubah pelatihan jadi praktik langsung + pendampingan sampai panen; promosikan sayuran berdaun umur pendek untuk rumah tangga; perkuat Pasar Teras/pangan murah; mutakhirkan basis data kelompok tani tahunan
Dinas Perdagangan (pengelola pasar rakyat) Sediakan sarana penanganan sederhana (meja display, krat, ruang pendingin bersama); tata pemisahan area basah/kering; pelatihan sanitasi & pascapanen pedagang; dorong diskon akhir hari untuk cegah susut
Dinas Lingkungan Hidup Kembangkan komposting & budi daya maggot BSF skala komunitas (5 kecamatan); perkuat pemilahan sampah dari sumber (rumah tangga, pasar, jasa boga); catat volume sampah organik terolah untuk neraca susut pangan
Bagian Perekonomian & SDA Setda Fasilitasi perjanjian kerja sama daerah dengan 5 kabupaten penyangga (Subosukawonosraten) — jaminan pasokan & komunikasi harga; arahkan dana CSR untuk sarana urban farming & pasar rakyat
Dinas Pariwisata & pelaku HOREKA Terapkan gerakan zero food waste event pada kegiatan MICE; kembangkan hotel/restoran hijau (tanam sayur di atap/halaman, serap hasil urban farming lokal); kembangkan agro-edutourism
BRIDA Lanjutkan kajian ekonomi urban farming dengan kajian susut pangan & rantai pasok; jadi simpul kemitraan penta-helix (pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas)
Masyarakat, Kelurahan, RT/RW, PKK, Karang Taruna Gerakan satu rumah satu tanaman produktif (rak bertingkat, wadah bekas); perencanaan belanja & porsi (cegah susut di rumah tangga); kelola komposter lingkungan terkait urban farming setempat
Perguruan Tinggi Arahkan KKN tematik/pengabdian ke pendampingan kelompok tani tidak aktif; dukung pengukuran dampak program secara ilmiah

Catatan penting: Prioritas urutan pelaksanaan (peta jalan 2026–2029) adalah regulasi + neraca susut pangan dulu, baru sarana fisik (pusat distribusi, dll.) — karena membangun infrastruktur tanpa data dasar berisiko menghasilkan aset tak termanfaatkan.