OPD : Kajian Ketahanan Pangan Perkotaan Melalui Supply Pengurangan Susut Pangan, dan Urban Farming Di Kota Surakarta
Tahun : 2026
Kesimpulan/Summary :
1. Sistem Pasokan Pangan — cukup di ketersediaan/keterjangkauan, rentan di stabilitas
2. Susut & Limbah Pangan — terkonsentrasi pada sayuran, 4 titik kritis
3. Urban Farming — sistem penyangga rumah tangga, bukan sumber pasokan kota
4. Model Integratif Tri-Pilar — terbukti relevan
5. Rekomendasi paling layak = penataan & penguatan praktik yang sudah ada, bukan program baru dari nol. Prioritas: Perwali pertanian perkotaan + neraca susut pangan. Target IKP 86,7 (2029) di RPJMD perlu dikoreksi karena sudah terlampaui (87,67 di 2024) — disarankan naik ke kisaran 90.
Rekomendasi :
| OPD / Pihak | Poin Rekomendasi Utama |
|---|---|
| Bappeda | Koreksi target IKP RPJMD (pertahankan ≥87,67, arah ke 90 pada 2029); masukkan tri-pilar ke RKPD/Renstra; tetapkan indikator antara (kelompok tani aktif, sampah organik terolah, unit urban farming) |
| Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan & Perikanan | Susun neraca susut pangan kota (baseline baru); revitalisasi 28 kelompok tani tidak aktif (prioritas sebelum kelompok baru); ubah pelatihan jadi praktik langsung + pendampingan sampai panen; promosikan sayuran berdaun umur pendek untuk rumah tangga; perkuat Pasar Teras/pangan murah; mutakhirkan basis data kelompok tani tahunan |
| Dinas Perdagangan (pengelola pasar rakyat) | Sediakan sarana penanganan sederhana (meja display, krat, ruang pendingin bersama); tata pemisahan area basah/kering; pelatihan sanitasi & pascapanen pedagang; dorong diskon akhir hari untuk cegah susut |
| Dinas Lingkungan Hidup | Kembangkan komposting & budi daya maggot BSF skala komunitas (5 kecamatan); perkuat pemilahan sampah dari sumber (rumah tangga, pasar, jasa boga); catat volume sampah organik terolah untuk neraca susut pangan |
| Bagian Perekonomian & SDA Setda | Fasilitasi perjanjian kerja sama daerah dengan 5 kabupaten penyangga (Subosukawonosraten) — jaminan pasokan & komunikasi harga; arahkan dana CSR untuk sarana urban farming & pasar rakyat |
| Dinas Pariwisata & pelaku HOREKA | Terapkan gerakan zero food waste event pada kegiatan MICE; kembangkan hotel/restoran hijau (tanam sayur di atap/halaman, serap hasil urban farming lokal); kembangkan agro-edutourism |
| BRIDA | Lanjutkan kajian ekonomi urban farming dengan kajian susut pangan & rantai pasok; jadi simpul kemitraan penta-helix (pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas) |
| Masyarakat, Kelurahan, RT/RW, PKK, Karang Taruna | Gerakan satu rumah satu tanaman produktif (rak bertingkat, wadah bekas); perencanaan belanja & porsi (cegah susut di rumah tangga); kelola komposter lingkungan terkait urban farming setempat |
| Perguruan Tinggi | Arahkan KKN tematik/pengabdian ke pendampingan kelompok tani tidak aktif; dukung pengukuran dampak program secara ilmiah |
Catatan penting: Prioritas urutan pelaksanaan (peta jalan 2026–2029) adalah regulasi + neraca susut pangan dulu, baru sarana fisik (pusat distribusi, dll.) — karena membangun infrastruktur tanpa data dasar berisiko menghasilkan aset tak termanfaatkan.