OPD : Kajian Terpadu Penanganan Banjir dan Genangan Berbasis Nature-Based Solutions Di Kota Surakarta
Tahun : 2026
Urusan: Lingkungan Hidup
Kesimpulan/Summary :
1. Daya Dukung Lingkungan Fisik
- Kecamatan Pasar Kliwon dan Serengan berkendala pada 4 parameter sekaligus (kemudahan dikerjakan, drainase alami, pembuangan limbah, kerawanan bencana); drainase alami di kedua kecamatan ini 80–84% masuk kelas rendah.
- Tervalidasi oleh banjir 14–15 April 2026: kelurahan terdampak terbesar (Kedunglumbu & Tipes) memang berada di kedua kecamatan tersebut → peta kerawanan berbasis SKL layak jadi dasar prioritas intervensi.
2. RTH, Resapan, dan Sempadan
- RTH/RTB fungsional 26,38%, tapi Indeks Hijau Biru (IHBI) berbobot hanya 20,53% → masalah kualitas fungsi ekologis, bukan sekadar luas.
- Realisasi taman kecamatan/kelurahan masih kosong meski RDTR 2023–2043 sudah mengalokasikan; selisih realisasi 222,18 ha (5,05% luas kota).
- 3 kecamatan paling parah banjir (Laweyan, Pasar Kliwon, Serengan) justru punya kawasan budidaya 87?n kawasan lindung tersisa 3% → hambatan utama penguasaan lahan, bukan perencanaan.
3. Persepsi Masyarakat
- 96,8% setuju konversi lahan kosong jadi resapan; 93,5?rsedia berpartisipasi; 71% pilih pendekatan kombinasi (bukan infrastruktur konvensional semata).
- Hambatan implementasi NbS bukan resistensi masyarakat, melainkan kelembagaan, pendanaan, penguasaan lahan, dan teknologi.
4. Material BioSil-C
- Komposisi optimal: 12% biochar tempurung kelapa, 6% nanosilika aktif, 82% semen PCC; target kuat tekan 30–35 MPa (memenuhi SNI paving block mutu B & C).
5. Permeabilitas & Adsorpsi (proyeksi teoretis, belum diuji lab)
- Laju infiltrasi proyeksi 1.200–1.800 mm/jam; kapasitas adsorpsi Cu⊃2;⁺ 45,2 mg/g dan Pb⊃2;⁺ 38,5 mg/g (efisiensi 78–88%).
6. Jejak Karbon
- BioSil-C 54,8% lebih rendah dari paving konvensional; pada implementasi 12.700 m⊃2; berpotensi mengurangi ±374,7 ton CO₂-eq/25 tahun (setara 600–750 pohon dewasa).
7. Model Spasial Terpadu
- Strategi NbS Surakarta harus mengubah karakter permukaan terbangun yang ada, bukan menambah luasan RTH baru. Peta jalan 3 fase, target 12.700 m⊃2; dalam 5 tahun, selaras Misi 5 RPJMD 2025–2029.
⚠️ Keterbatasan kajian: analisis spasial hanya level kecamatan; sampel survei persepsi kecil/tidak representatif; seluruh kinerja material masih proyeksi teoretis (belum validasi laboratorium).
Rekomendasi :
A. Rekomendasi Penelitian (untuk peneliti, perguruan tinggi, BRIDA)
- Validasi eksperimental material BioSil-C (uji kuat tekan, permeabilitas, porositas, adsorpsi)
- Uji lapang termonitor di Solo Technopark (pengukuran infiltrasi tiap 6 bulan, 3 tahun)
- Substitusi nanosilika komersial dengan silika sekam padi lokal (turunkan biaya)
- Survei persepsi dengan sampel representatif (≥400 responden) + kesediaan membayar
- Analisis biaya-manfaat & biaya siklus hidup 25 tahun
- Pemodelan hidrologi terdistribusi tingkat kelurahan (termasuk efek air balik Bengawan Solo)
- Verifikasi ulang basis data spasial (ada kejanggalan di Tabel 4.6/4.8 dan kolom proyeksi permukiman)
- Pengembangan basis data inventori emisi Indonesia (bukan pakai basis data internasional)
B. Rekomendasi Kebijakan per OPD/Pemangku Kepentingan
| OPD / Pihak |
Poin Rekomendasi Utama |
| Bappeda |
Masukkan pengelolaan limpasan tapak ke RKPD tahunan; realisasikan 222,18 ha RTH yang sudah ada di RDTR; koordinasi dengan BBWS Bengawan Solo |
| Dinas PU dan Penataan Ruang |
Syarat laju infiltrasi minimum dalam pengadaan perkerasan mulai TA 2027 (paling murah & berdaya ungkit besar); fasilitas retensi air jadi syarat IMB di kawasan berdaya tampung tinggi (dasar: Perda No. 9/2022); lanjutkan & perluas program pompa/kolam retensi yang sudah berjalan; susun protokol pemeliharaan perkerasan permeabel |
| Dinas Lingkungan Hidup |
Baseline kualitas limpasan di Laweyan sebelum Fase 1; perluas kajian RTH ke kawasan padat & industri batik; integrasikan sumur resapan/biopori/bioswale ke pelaporan IHBI (dasar: Permen ATR/BPN No. 14/2022); prioritaskan IPAL komunal di Pasar Kliwon & Serengan |
| BRIDA |
Fasilitasi petak percontohan di Solo Technopark; lanjutkan rekomendasi teknis sebelumnya (biopori, bioswale, dll) dengan spesifikasi kinerja terukur; integrasikan sensor infrastruktur hijau ke Surakarta Smart City |
| Dinas Perdagangan & Dinas Koperasi/UMKM |
Fasilitasi rantai pasok biochar tempurung kelapa dari industri rumahan Solo Raya (pelatihan pirolisis, standardisasi mutu) |
| Wali Kota & DPRD |
Insentif fiskal (PBB/retribusi) bagi persil dengan area resapan >minimum; selesaikan penguasaan tanah di sempadan sungai bersertifikat pihak lain; jamin pendanaan lintas tahun anggaran untuk peta jalan 5 tahun |
| Masyarakat, Komunitas, Dunia Usaha |
Aktifkan pemeliharaan berbasis komunitas (modal sosial 93,5%); pelaku batik tetap penuhi kewajiban IPAL (PP No. 22/2021); pengembang perumahan terapkan perkerasan permeabel |