Detail E-Riset

Kajian Wellness Tourisme Dari Perspektif Sosial Budaya

OPD : Kajian Wellness Tourisme Dari Perspektif Sosial Budaya

Tahun : 2023

Urusan: Pariwisata

Kesimpulan/Summary :

Berkembangnya trend gaya hidup sehat berpengaruh terhadap pendekatan pariwisata sehingga muncul pendekatan wellness tourism
pada industri pariwisata. Pendekatan tersebut terus berkembang sehingga berpengaruh positif terhadap perekonomian lokal, regional,
nasional, bahkan global. Indonesia dengan kekayaan budaya dan sumberdaya alam yang mendukung dapat memanfaatkan perkembangan
industri pariwisata tersebut, termasuk Kota Surakarta. Apalagi mengingat Kota Surakarta mempunyai beberapa keunggulan komparatif
dibandingkan daerah lain di Indonesia, khususnya terkait dengan budaya, posisi geografis, dan perkembangan industri pariwisatanya. 
Oleh sebab itu, atas dasar uraian di atas, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kota Surakarta berencana melaksanakan kegiatan “Kajian Wellness Tourism Dari Perspektif Sosial dan Budaya” ini. Dimana tujuannya adalah untuk perkembangan wellness tourism dari perspektif sosial budaya, agar wisata ini tidak hanya sebatas pada pemenuhan kebutuhan saja, tetapi juga terintegrasi dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Selanjutnya, dari analisis yang telah dilakukan, dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai
berikut:
1. Responden yang bersedia menanggapi kuesioner yang disebarkan merupakan responden dalam generasi milenial yang memiliki
karakter berwisata suka mencari pengalaman wisata unik, baru, otentik, dan personal.   
2. Kebijakan yang akan dibuat terkait dengan studi ini sangat berorientasi masa depan, di mana dunia sedang sangat mengembangkan wellness tourism, untuk kepentingan kebugaran generasi masa depan (milenial dan Gen-Z) sebagai generasi bonus demografi dalam pembangunan negara.  
3. Tidak ada ungkapan/kendala/keberatan yang terkait dengan sosial budaya.  Hal ini sangat terkait dengan karakter generasi milenial dan Gen-Z yang cenderung tidak terlalu fokus pada pertimbanganpertimbangan tersebut didalam kinerja mereka, namun benar-benar berfokus pada kemanfaatan ekonomi.  

4. Responden memberi tanggapan yang baik terhadap rencana pengembangan wellness tourism di kota Surakarta, terutama demi
kemanfaatan mengangkat ekonomi kota Surakarta dan tentu saja bagi keberlangsungan bisnis-bisnis wellnes tourism (kebugaran jiwa dan
raga) yang sudah banyak di kota Surakarta.  
5. Pilihan-pilihan utama responden adalah wellness tourism berbasis data tarik wisata budaya, sejarah,  kuliner/restautan dengan bahan
organik (culinary experiences),  Toko bahan makan yang sehat serta Fitness dan Gyms centers 
6. Meski demikian, Kota Surakarta yang sangat dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya memegang teguh nilai adat dan budaya yang mengedepankan dan menjunjung tinggi sopan santun, tata tentrem, tepa salira, tata krama, guyub rukun, dan gotong royong,
harus tetap dipertahankan dalam koridor pengelolaan relasi antar manusia, baik warga asli maupun pendatang.  
7. Kota Surakarta dikenal sebagai daerah yang mempunyai kekayaan budaya, warisan leluhur, serta beragam rempah-rempahan dan menjadi peninggalan dan bagian tak terpisahkan dengan Kraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran.   


Rekomendasi :

Atas beberapa kesimpulan di atas, kajian ini menyajikan rekomendasi
sebagai berikut: 
1. Pemerintah Kota Surakarta sebaiknya segera menyiapkan peraturan,
baik yang berupa Peraturan Daerah maupun Peraturan Walikota,
dalam mendukung Pengambangan Wellness torism. 
2. Pemerintah Surakarta dapat melanjutkan pengembangan kota
Surakarta sebagai wellness tourism city dengan target  segmen pasar 
milenial/gen-Z dengan pilihan tema yang erat  terkait dengan budaya,
sejarah, heritage, makanan sehat, dan pemeliharaan kebugaran fisik. 
3. Pemerintah Kota Surakarta sebaiknya segera mengembangkan paket
wisata dengan mem-bundling (obyek wisata) wisata kebugaran
dengan wisata alam, wisata artifisial, maupun jenis wisata lainnya,
menjadi paket wisata keluarga. 
4. Pemerintah Kota Surakarta sebaiknya mereposisi daerahnya sebagai
penghasil bahan baku jamu tradisional dan aroma terapi, untuk
menjamin pasokan sehingga bahan baku jamu tradisional dan aroma
terapi menjadi tepat kualitas, kuantitas, dan waktu. 

5. Pemerintah Surakarta sebaiknya mengembangkan dan mengelola
wellness tourism berbasis budaya dan kearifan lokal sehingga
beradaan wisata kebugaran tersebut sesuai dengan nilai adat dan
budaya yang dianut masyarakat Kota Surakarta.  
6. Pemerintah Surakarta sebaiknya mengembangkan dan mengelola
wellness tourism menjadi wadah bagi generasi muda untuk tetap
mengenal tradisi dan budaya lokal sehingga keberadaan wisata
kebugaran tersebut menjadi relatif mudah diterima oleh masyarakat
Kota Surakarta.